memberitakan secara cerdas dan berimbang

Rendi Siswa SMKN 2 Sijunjung 3 Bulan Lebih Terbaring di Kasur

Masyarakat setempat : Dalam penanganannya perlu ada perhatian serius dari pemerintah setempat.

7.086

Sijunjung, mediacerdas.com__  Bermain sepakbola, bagi seseorang bisa juga dikatakan sebuah hobby dan bisa juga menjadi sebuah ajang olah raga untuk mengukir sebuah prestasi, dengan prestasi itu  semua orang atau yang jelas keluarga sendiri  menjadi bangga.

Tetapi tidak dengan Rendi (18 th)  anak dari pasangan Abdul Zulzazi (55 th) dengan Ode (45 th) warga Pandakian Alai, belakang Surau Tampunik, Jorong Ganting,  Nagari Sijunjung. Kecamatan Sijunjung.

Kenapa dikatakan “Tidak…!!”, pasalnya Rendi yang hobby bermain sepakbola dari kecil ini, mulai dari SD sampai tingkat SLTP malahan juga sampai ke ditingkat SLTA, ia selalu dipilih oleh sekolahnya untuk masuk tim sepakbola  di sekolah setempat.

Ditingkat SLTP ia pun  masuk tim sekolahnya dalam mengikuti laga di Liga Pelajar Indonesia (LPI) yaitu pada tahun 2015 yang lalu.

Di LPI tahun 2015 inilah petaka itu mulai menimpa Rendi, ia mengalami cedera lutut kanan ketika bebenturan dengan salah seorang pemain tim lawan, sehingga ia digotong kepinggir lapangan dan tidak bisa lagi melanjutkan pertandingan bersama kawan-kawannya satu tim.

Sembari dengan berjalannya waktu, cedera dikaki kanan Rendi berangsur sembuh, walaupun masih ada sedikit meninggalkan benjolan kecil.

Kemudian Rendi pun melanjutkan sekolahnya SMKN 2 Sijunjung, disini ia kembali memperkuat tim sekolahnya dalam laga uji coba atau laga persahabatan dengan tim sekolah lain  bertempat lapangan sepakbola M.Yamin.SH, Muaro Sijunjung.

Rendi kembali mengalami cedera kaki kanan, juga gara-gara berbenturan dengan lawan.

Cedera yang ia alami kali ini berbuntut panjang  terhadap Rendi yang masih duduk dibangku kelas III di SMKN 2 Sijunjung tersebut,

Keadaan ini bertambah buruk seusai melaksanakan PKL di daerah Padang 4 bulan yang lalu, kaki kanannya semakin  membekak, sehingga sekitar 3 bulan yang lewat sampai sekarang ia lumpuh total dan tidak bisa bergerak sama sekali, yang ia lakukan hanya berbaring di kasur.

Kondisi Rendi saat ini memang sangat memprihatinkan sekali, Ode ibundanya Rendi mengatakan “ia terbentur biaya dalam mengobati Rendi, sehingga ia bingung tidak ada lagi yang bisa ia perbuat”, ujarnya  tanpa sengaja air matanya menetes.

Masih dengan mata berkaca, Ode kembali menyampaikan,” Yo..mungkin ikolah nasib kami, ucapnya dengan logat bahasa minang.

Ketidak berdayaan terkait biaya ini, sering ditutup-tutupi oleh Ode dengan alasan bahwa, “si Rendi nyo takuik dioperasi kakinyo pak”..!!,

“Sebenarnya yang kami perlukan itu adalah biaya untuk pergi ke Padang, kerumah sakit M.Djamil, ditambah biaya kami yang menunggui disana pak”,,!, tapi kalau untuk biaya operasi Rendi bisalah, karena kita sekeluarga sudah masuk dalam BPJS,”terangnya lagi.

Memang garisan hidup ini telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, kita tidak tahu apa dan bagaimana garisan hidup kita yang akan terjadi kedepannya nanti.

Disini terlihat pada sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu ukuran 4×4 meter inilah Rendi terkadang merintih menahan sakit, sesekali ibunya Ode, mengipasinya dengan kertas koran yang sudah sobek.

Memang disisi lain kalau kita lihat rumah Rendi, ini seperti rumah permanen yang berdinding batako, tetapi, bangunan ini hanya untuk menutupi rumah kayu saja.

Sebenarnya Rendi bersama kedua orang tua dulunya tinggal di Jorong Pudak, dekat Pondok Pesantren Pudak, Nagari Sijunjung.

Tetapi  Ia (Rendi) sempat dibawa berobat kerumah sakit M.Djamil, Padang, entah kenapa, yang jelas alasannya adalah,” Rendinya takut kakinya di operasi,” ujar, bapaknya, Abdul Zulzazi, kepada mediacerdas.com , Sabtu (3/2/2018)

Setelah pulang berobat dari Rumah Sakit M.Djamil Padang, Rendi tidak mau lagi pulang ke Pudak, ia ingin tinggal di rumah neneknya di Pandakian Alai, belakang Surau Tampunik, Jorong Ganting, Sijunjung,  .

Lebih jauh dituturkan Abdul Zulzazi,” Rendi inilah hiburan kami dirumah, kakaknya sudah pergi merantau ke Tanjung Batu daerah Kepulauan Riau, tetapi dengan kondisi sekarang ini, saya pun tidak bisa bekerja dan berbuat apa-apa, pagi-pagi saya sudah pergi mencari obat buat Rendi, paling kalau ada luang waktu, saya pergi muat pasir keatas truk didaerah tepi sungai, Jorong Pudak, yaitu tempat pengambilan pasir, disini paling berapalah upahnya,” ucapnya dengan nada sedih dan mata berkaca.

Melihat kondisi Rendi dan keluarganya, akhirnya Zal (58 th) warga setempat, mengatakan kepada mediacerdas.com,” Ini perlu perhatian serius dari pemerintah daerah, supaya bisa meringankan beban kehidupan yang di alami oleh keluarga Rendi , apapun alasan pemerintah setempat, keluarga ini harus dibantu, disisi lain perlu saya katakan bahwa disinilah peran media yang kita harapkan, supaya kejadian-kejadian sosial di tengah-tengah masyarakat ini bisa terekspos dan bisa dilihat dan dibaca oleh pihak-pihak terkait,” ucapnya dengan nada prihatin. (aciak)

 

Komentar Facebook
error: Konten Di Proteksi