memberitakan secara cerdas dan berimbang

Pemilihan Ketua LKAAM Sijunjung, dianggap Telah dikondisikan Untuk Mengarah kepada Salah Seorang Calon

101

Sijunjung,mediacerdas.com___  Epi Radisman, terpilih kembali menjadi Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) kabupaten Sijunjung periode (2018-2022) dalam Musyawarah Daerah (Musda) LKAAM yang ke 11 di Gedung Pertemuan Pancasila, Muaro Sijunjung, Rabu (28/2/2018).

Tetapi dengan terpilihnya Epi Radisman ini, banyak pihak menilai bahwa pemilihan tidak fair dan tidak sportif, sepertinya Epi Radisman memang telah disetting untuk menjadi ketua kembali periode 2018-2022.

Sehingga suasana pemilihan ini terlihat begitu hangat sampai waktu magrib, dan disini juga terlihat sebahagaian peserta tidak mau masuk lagi keruangan rapat Musda, karena mereka kecewa dengan cara atau pola pemilihan yang mengarahkan kepada seseorang untuk menjadi ketua.

G.Sampono Marajo, sekretaris komite dalam pemilihan ketua ini, kepada mediacerdas.com mengatakan,” kalau kita lihat arah politiknya pemilihan ketua LKAAM  kabupaten Sijunjung periode 2018-2022, memang menuju pada seseorang, buktinya pada saat penjaringan terlihat sekali arahnya pada seseorang, padahal kita sudah mengatur cara pencalonan, yaitu setiap kecamatan LKAAMnya harus mengusulkan dua nama.

Sementara dari hasil penjaringan seharusnya suara itu ada 16 suara, sesuai dengan banyaknya kecamatan, tetapi suara yang muncul itu hanya 13 suara, maka dari 13 suara, sesuai dengan calon yang diusulkan yaitu Datuak Epi Radisman mendapat perolehan suara sebanyak 7 suara, kemudian Datuak Bandaro Bujang mendapat 5 suara, dan Datuak Sampan Hulu 1 suara,” katanya.

Dari hasil perolehan suara ini, sebenarnya tidak bisa dijadikan persentasenya, sesuai dengan salah satu pasal dalam tata cara pemilihan,” ujarnya.

Maka dari kejadian ini , saya mengusulkan untuk divoting, sesuai dengan aturan “ hal ini dilakukan karena tidak ditemui kata sepakat dalam pola penjaringan tersebut, maka kalau tidak ditemui kesepakatan maka dilakukanlah voting,”sambungnya lagi.

Setelah menjadi perdebatan hebat tentang kesepahaman ini, maka suasananya semakin memanas, dan tegang.

Melihat kondisi yang terjadi kian memanas, akhirnya dimintalah petunjuk dari Ketua LKAAM provinsi Sumatera Barat, M.Sayuti, tetapi apa yang terjadi, apa yang disampaikan oleh M.Sayuti, malah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dari penyampaiannya terlihat sekali ia sangat memihak kepada seorang kandidat calon ketua,” ucapnya.

“Dan menurut saya ini bertambah tidak bagus lagi, dan membikin suasana tambah menghangat, tidak ada lagi sebuah demokrasi disini,” kata G. Sampono Marajo.

“Sebab apa yang kita sampaikan sebelumnya itu kita mempunyai alasan yang kuat, dan kita tahu apa maksud dari pasal tersebut, sebab kita ikut membuat aturan atau tata cara pemilihan ini,” ungkapnya dengan nada kesal.

“Walaupun suasananya terus menghangat, dan tidak menemui titik temu, proses pemilihan ketua dengan sistim penjaringan ini tetap di sahkan, padahal menurut saya itu sudah cacat, dan tidak memenuhi syarat dalam pasal tersebut,” kata Sampono Marajo lagi.

Sepertinya kejadian terus dipaksakan, sehingga Datuak Epi Radisman, tetap saja dikukuhkan oleh Ketua LKAAM Provinsi Sumatera Barat, M.Sayuti, menjadi ketua LKAAM Sijunjung periode 2018-2022,” tutup, G.Sampono Marajo.

Lain lagi versinya salah seorang Datuak dari Sumpur Kudus, kepada mediacerdas.com , Kamis (1/3/2018),” Kejadian ini sebenarnya kalau tidak dimulai, tidak mungkin terjadi, “tak mungkin ada asap, kalau tak ada api,” ”ucapnya seperti membenarkan kejadian yang terjadi pada pemilihan Ketua LKAAM di kabupaten Sijunjung tersebut.

Dibeberkannya lagi,” Kalau saya melihat, jauh sebelum musda atau pemilihan ketua LKAAM ini, sepertinya sudah dikondisikan atau diatur dan disiasati siapa yang akan menjadi ketua LKAAM di kabupaten Sijunjung ini, dan yang lebih parah lagi, yang mengkondisikannya adalah pemerintah daerah, sehingga dalam mengkondisikan ini, tekhnisnya sampai ke camat di seluruh kecamatan yang ada di kabupaten setempat,” ujarnya.

“Disnilah pertama kali akar persoalannya berawal, padahal kalau kita lihat selama ini hubungan antara LKAAM dengan Pemerintah daerah memang tidaklah begitu baik, buktinya pemilihan Ketua LKAAM ini, sempat ditunda dua kali,” katanya.

“Maka melihat kondisi seperti ini, kemudian dengan masuknya intervensi pemerintah daerah dalam pemilihan ketua LKAAM tersebut, yaitu dengan cara mengarahkan kepada seseorang, dengan cara kerjanya jauh sebelum hari pemilihan dengan melalui camat-camat di setiap kecamatan, dengan bahasa,” Bisuok kalau pemilihan ketua LKAAM pilihlah si Anu yo,”  sampainya dalam logat minang.

“Kemudian melihat pemerintah daerah sudah mengatur strategi seperti ini, maka kita mulailah merapatkan barisan, “Perang kampuang, kampuang dibela,,perang nagari, nagari dibela,, perang dusun, dusun dibela,,!!,”  walaupun yang kito usuang itu sedikit ado cacatnyo, yang namonyo kampuang kito tu,,tetap kito pertahankan,” katanya kepada mediacerdas.com.

Dikatakan lagi,” Saya tidak suka ninik mamak itu diintervensi pemeritah daerah,” ujarnya sambil menyelip pembicaraan dengan mediacerdas.com.

Kembali pada soal pemilihan Ketua LKAAM Sijunjung, ia katakan,” Pemilihan itu sudah sesuai dengan aturan, yaitu dengan sistem penjaringan, dan tidak perlu diperdebatkan lagi, karena diwaktu saya memimpin sidang, saya sudah sampaikan kepada peserta sidang, agar dan tolong dibaca lagi ayat per ayat dari aturan itu, kemudian saya lemparkan lagi ke forum, “apakah setuju,,!,” mereka jawab setuju dan malah disetujui, nah dimana salahnya pemilihan ini,” ucapnya heran.

Jadi disini saya berprinsip,”Lebih baik jadi pembangkang daripada penjilat,” mengakhiri pembicaraannya dengan mediacerdas.com. (aciak)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Facebook
error: Konten Di Proteksi