memberitakan secara cerdas dan berimbang

Raudah Thaib :Budaya Bajujai dan Pola Asuh Bersama Mulai Pudar di Minangkabau

118

Sijunjung,mediacerdas.com__ Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumatera, Prof.Dr.Hj.Puti Reno Raudah Thaib, hadiri acara Musyawarah Daerah (Musda) Bundo Kanduang kabupaten Sijunjung yang ke 8 di Gedung Pertemuan Pancasila, Muaro Sijunjung, Rabu (28/2/2018).

Dalam acara ini, yang juga bersamaan dengan Musda LKAAM kabupaten setempat yang ke 11, Raudah Thaib, katakan,” Bahwa Bundo Kanduang yang berperan penting pada keluarga di Minangkabau, sekarang ini karena kemajuan zaman tidak bisa ditantang, banyak sekali dizaman modern ini terjadi perubahan, yaitu perubahan identitas budaya Minang, seperti menyangkut pakaian, dan yang paling terlihat itu, tidak adalagi budaya bajujai ,” ujarnya.

Dikatakan lagi,” Bundo Kanduang sebagai Bundo sako sangat berperan penting untuk ketahanan sebuah keluarga, kemudian dalam sebuah keluarga itu  yang paling utama adalah peran mande dalam mengasuh anak, dan disamping itu dalam mengasuh anak ini juga ada pola asuh bersama,” katanya.

“Tetapi keduanya ini, Budaya bajujai dan Pola Asuh Bersama, sudah mulai pudar di era modern pada di Minangkabau ini,” ucap Raudah Thaib.

“Hilangnya  “budaya bajujai”  ini adalah karena kemajuan tekhnologi, lihat saja katanya,” Seorang anak  sekarang susah sekali diajak bicara, karena sedang sibuk dengan memainkan hp, android, iPad dan lain sebagai, tetapi dahulu sebelum tekhnologi merambah anak-anak kita, “ Asyik sekali ibu-ibu atau mande bercanda, bercengkrama dengan anak-anaknya, dan ini membuat atau membentuk karakter anak itu sangat dekat dengan ibu dan kelurganya,” ujarnya.

Kemudian “pola asuh bersama”  , kalau di Minangkabau, pola asuh bersama yang dimaksud adalah seandainya dizaman modern ini kedua orang tuanya, artinya bapak dan mande nya, sama-sama bekerja, tidak adalagi mamak, etek, uni, dan yang lainnya dilingkungan suku atau kaum ataupun nagari yang menjaga anak tersebut, tetapi yang terjadi hanya dititip tempat penitipan anak, atau sama pembantu, dan ini sangat beda sekali di zaman dahulunya, semua orang dilingkungan itu ikut menjaga anak, cucu, keponakan, dan mereka takut dan segan kepda orang-orang dilingkungannya,” ungkap Raudah Tahib.

“Jadi di zaman modern, atau di zaman tekhnologi, diharapkan budaya masyarakat Minangkabau budaya bajujai dan budaya pola asuh bersama ini bisa muncul lagi, dan untuk memulihkannya kembali, tidak terlepas dari peran kita bersama,’ tutupnya. (aciak)

Komentar Facebook
error: Konten Di Proteksi