memberitakan secara cerdas dan berimbang

Raja Jambu Lipo Kritik Pendapat Raudhah Thaib selaku Ketua Bundo Kanduang

terkait masuknya unsur Bundo Kanduang dalam KAN, adalah karena DPRD Sumbar mengesahkan Ranperda Nagari menjadi Perda.

90

Sijunjung,mediacerdas.com___Tuanku Rajo Godang, Firman. Bagindo Tan Ameh. Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Jambu Lipo, di Lubuk Tarok, Sijunjung, menyayangkan pendapat yang disampaikan oleh Puti Reno Raudhah Thaib (Upita Agustine)  Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat, tentang masuknya unsur Bundo Kanduang kedalam KAN.

Masuknya unsur Bundo Kanduang dalam KAN, adalah karena DPRD Sumbar mengesahkan Ranperda Nagari menjadi  Perda,  Jumat (27/12) lalu,  pada pukul  22.00.WIB di Gedung DPRD setempat.

Pada poin 2 Pasal 6 Perda Nagari disebutkan, KAN keanggotaannya terdiri dari perwakilan ninik mamak dan unsur alim ulama nagari, unsur bundo kanduang (BK), unsur cadiak pandai, dan unsur parik paga dalam nagari yang bersangkutan  sesuai dengan adat salingka nagari.

Dengan masuknya unsur Bundo Kanduang tersebut kedalam KAN,  Raudhah Thaib, ketua Bundo Kanduang  provinsi Sumatera Barat mengeluarkan pendapatnya dan setuju dengan perda tersebut, sehingga, pendapatnya tersebut  mendapat kritikan dari beberapa kalangan masyarakat.

Termasuk kritikan itu datangnya dari Tuanku Rajo Godang, Firman. Bagindo Tan Ameh. Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Jambu Lipo, di Lubuk Tarok, Sijunjung, Minggu (7/1)  kepada  mediacerdas.com, mengatakan, bahwa,” Terlalu cepat atau terlalu dini, Raudhah Thaib itu  berpendapat,  sehubungan dengan  masuknya unsur  Bundo Kanduang  kedalam  KAN..

“Saya sebenarnya tidak sependapat, dengan Raudhah, artinya kalau Bundo kanduang sudah masuk kedalam KAN, dengan demikian Bundo Kanduang sudah selevel atau sejajar dengan Ninik Mamak,” ujarnya.

Ditambahkan lagi,”Pendapat yang disampaikan oleh Raudhah tersebut, Itu hanya menurut pemikirannya sekarang.

Tetapi nanti beberapa tahun kedepannya bagaimana,,? Apakah  kita tahu apa yang akan terjadi,,,?, bisa saja bundo kanduang  itu ,jadi ketua KAN kedepannya , karena bundo kanduang tersebut sudah  diberi selevel didalam KAN  dan mempunyai hak yang sama.”imbuhnya.

“Kemudian disayangkan pendapatnya, karena semua orang tahu bahwa Raudhah Thaib ini adalah merupakan seorang Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumatera Barat, “ hendaknya dia itu mengeluarkan pendapatnya, diharapkan dari pendapatnya tersebut , tidak ada lagi atau jangan sampai ada lagi pembandingnya,”  harap, Rajo Jambu Lipo.

Kalau dikatakannya,”Niniak artinya Perempuan, dan Mamak adalah laki-laki.”

“Jadi maksud kata tersebut, bukanlah seperti apa yang disampaikan oleh Raudhah, karena Ninik itu artinya  adalah  ibu dari ibu kita, sedangkan mamak adalah saudara laki-laki  dari ibu kita”.

“Dan antara Ninik dan Mamak  tidaklah sejajar seperti yang disampaikan Raudhah tersebut”

Karena hal yang ia sampaikan tersebut adalah hal baru, maka ia harus hati-hati dalam mengeluarkan pendapatnya,” tambahnya lagi.

Kemudian disisi lain disampaikan,Rajo Jambu Lipo,” Bagi yang membuat perda, seharusnya perda yang sangat spesifik ini dijemput kebawah dulu, arti dikaji lebih mendalam lagi, dan  dilihat betul-betul  kondisinya  dibawah, bagaimana akar persoalan yang sebenarnya. (Aciak)

 

(Kutipan dari berita HarianHaluan.com  tanggal 3 januari 2018,  judul “Jadi Anggota KAN Bundo Kanduang  Diprotes.)

Raudhah, menyampaikan pendapatnya,” Tidak ada masalah Bundo Kanduang masuk kedalam KAN, karena di dalam KAN ada niniak mamak, yang di dalamnya terdapat perempuan. Ia menjelaskan, niniak mamak terdiri dari dua kata, yakni niniak dan mamak. Niniak adalah perempuan, sedangkan mamak adalah laki-laki, urang ampek jinih, yakni pangulu, malin, dubalang, dan manti.

Di Minang, kata Raudha, bundo kanduang tidak bisa masuk ke dalam urang ampek jinih. Karena itu, tidak masuk akal apabila bundo kanduang dikhawatirkan menjadi ketua KAN atau menjadi urang ampek jinih, dan imam serta khatib.

“Jangan cemas bundo kanduang masuk ke dalam KAN. Bundo kanduang tidak akan menuntut kesetaraan gender. Apabila ada perempuan Minang menuntut keseteraan gender, berarti dia tidak memahami adat Minang yang sangat menghargai perempuan. Apabila ada laki-laki yang khawatir perempuan Minang menuntut kesetaraan gender, berarti dia tidak mengerti adat Minang,” ucapnya.

Sebagai ketua Bundo Kanduang Sumbar, Raudha menyatakan, ia mendukung bundo kanduang masuk ke dalam KAN seperti yang terdapat dalam Perda Nagari.  (*)

Komentar Facebook